Banten.WAHANANEWS.CO - Kawasan wisata Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten yang terus memperkuat komitmen pengembangan pariwisata berkelanjutan mendapat respons positif dari Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran.
Mereka menilai langkah tersebut selaras dengan arah pembangunan nasional yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kenyamanan wisatawan, dan kelestarian lingkungan.
Baca Juga:
Kemlu Gencarkan Promosi BBTF 2026 ke 132 Negara, Bidik Puluhan Buyer Global
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan pengelola Tanjung Lesung merupakan contoh konkret bagaimana sektor pariwisata dapat berkembang tanpa mengorbankan ekosistem.
“Ini adalah pembangunan peradaban pariwisata yang berkelanjutan. Tanjung Lesung menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan,” ujar Tohom, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, berbagai kegiatan berbasis komunitas seperti Rhino Eco Run, Sunset Fun Run Fest, hingga festival budaya menjadi strategi cerdas dalam membangun keterlibatan publik sekaligus memperkuat identitas lokal.
Baca Juga:
Menpar Apresiasi ISI Bali, Perkuat Pariwisata Berbasis Budaya Lewat Kalangan Widya Mahardika V
Ia menilai, model seperti ini mampu menciptakan pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif dan berdampak sosial.
Tohom juga menyoroti kesiapan kawasan dalam menghadapi perubahan pola kunjungan seiring rencana beroperasinya Tol Serang–Panimbang Seksi 2 pada Oktober 2026.
Infrastruktur tersebut diyakini akan menjadi katalis peningkatan jumlah wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya.
“Yang menarik, mereka tidak hanya bersiap dari sisi kapasitas, tetapi juga kualitas. Ini penting agar lonjakan wisatawan tidak berujung pada degradasi lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, program konservasi yang dijalankan seperti pembersihan pantai, penanaman pohon, pelepasliaran penyu, hingga konservasi terumbu karang merupakan langkah strategis yang harus diperluas dan direplikasi di destinasi lain.
“Ke depan, pariwisata Indonesia harus berbasis konservasi. Ini bukan pilihan, tetapi keharusan jika kita ingin menjaga daya saing jangka panjang,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan bahwa pengembangan Tanjung Lesung mencerminkan pentingnya integrasi antara infrastruktur, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan.
Menurutnya, kawasan seperti ini berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata jika dikelola secara konsisten dan terukur.
Lebih jauh, ia menilai keberhasilan Tanjung Lesung dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata dan kelestarian alam harus menjadi benchmark nasional.
“Kalau model ini diperkuat, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga contoh global dalam pengelolaan destinasi berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan panjang pantai mencapai 14 kilometer yang dilengkapi fasilitas pengaman, jalur pedestrian, hingga jogging track, Tanjung Lesung dinilai telah menunjukkan kesiapan dalam memberikan kenyamanan sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Upaya ini diyakini akan memperkuat daya tarik kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan di masa depan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]