BANTEN.WAHANANEWS.CO, Pandeglang - Berawal dari keinginan mengangkat potensi Hutan Kopi Citaman Lawangtaji yang selama ini belum dikenal luas Ketua Kelompok Petani Kopi Citaman Lawangtaji, Maman, bersama para petani setempat menggagas sebuah konsep agroeduwisata berbasis konservasi yang kini dikenal sebagai K-TRACK (Kopi Tourism & Rural Agro Creative Gunung Karang).
Melihat besarnya potensi yang dimiliki kawasan tersebut, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Banten bersama PLN Peduli mendukung keberlanjutan pengembangan K-TRACK melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Baca Juga:
Pemkab Lebak Minta Masyarakat Laporkan Kasus Kekerasan Seksual Segera
Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan petani kopi sekaligus penguatan potensi ekonomi masyarakat lokal di kawasan Hutan Kopi Citaman Lawangtaji, Gunung Karang, Kabupaten Pandeglang.
Kedepannya K-TRACK akan menghadirkan pengalaman wisata edukatif melalui jalur "Kopi Trip" yang mengajak pengunjung menyusuri kawasan hutan kopi berusia puluhan hingga ratusan tahun di ketinggian sekitar 458 meter di atas permukaan laut.
Sepanjang perjalanan, wisatawan tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga belajar mengenai budidaya kopi, konservasi hutan, serta kekayaan biodiversitas yang menjadi identitas kawasan.
Baca Juga:
Dari Cilegon Menuju Bali, PLN UID Banten Sukseskan Touring EV Lintas Pulau dalam Riding Nusantara 2026
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Banten, Tonny Bellamy, mengatakan bahwa K-TRACK merupakan wujud komitmen PLN dalam menghadirkan program TJSL yang mampu menciptakan manfaat berkelanjutan melalui kolaborasi dengan masyarakat.
"Kami percaya bahwa program pemberdayaan yang berkelanjutan adalah program yang tumbuh dari potensi lokal dan dijalankan bersama Masyarakat dengan konsisten. K-TRACK menunjukkan bahwa konservasi lingkungan, pengembangan ekonomi, dan pariwisata dapat berjalan beriringan. PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai mitra pembangunan yang mendukung lahirnya ekosistem ekonomi masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan," ujar Tonny Bellamy.
Salah satu keunikan Hutan Kopi Gunung Karang adalah keberadaan lalay, sebutan masyarakat setempat untuk kelelawar pemakan buah yang berperan sebagai penyerbuk alami tanaman kopi. Interaksi tersebut melahirkan Kopi Leupeh Lalay, kopi khas Gunung Karang yang memiliki karakter cita rasa dengan keasaman rendah, rasa yang bersih, sentuhan fruity, serta sweet aftertaste yang menjadi ciri khasnya. Melalui K-TRACK, kekayaan alam dan budaya tersebut dikemas menjadi pengalaman wisata yang mengedukasi sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi kopi lokal.