Rappler telah menerbitkan secara luas tentang perang mematikan presiden populis tersebut terhadap narkoba, serta mengambil pandangan kritis pada isu-isu misogini, pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi. Wanita kelahiran Filipina 2 Oktober 1963 ini secara pribadi telah melaporkan penyebaran propaganda pemerintah di media sosial.
Wanita yang mengawali karier jurnalis sejak 1980-an ini telah menghadapi banyak kasus hukum, yang menurutnya bermotif politik. Pemerintah Filipina telah mempertahankan legitimasi dalam menyeret Maria Ressa ke dalam pengadilan.
Baca Juga:
Soal SKK Wajib Bagi Jurnalis Asing, Polri Buka Suara
Dalam sebuah pernyataan, Rappler mengatakan "terhormat dan terkejut" bahwa kepala eksekutifnya telah diberikan hadiah Nobel Perdamaian.
"Itu tidak mungkin datang pada waktu yang lebih baik, saat jurnalis dan kebenaran diserang dan dirusak," katanya.
Melansir The Famous People, Maria Ressa memiliki dedikasi dalam bidang jurnalistik yang tidak tanggung-tanggung, terbukti dengan adanya rekaman video liputannya di sarang Osama bin Laden di Afghanistan.
Baca Juga:
Kronologi Kasus Jurnalis Dibunuh TNI AL di Kalsel Versi Pengacara
Sementara sedikit fakta bahwa Maria Ressa ternyata adalah teman sekelas dari mantan ibu negara AS Michelle Obama, saat berada di Princeton University. [Tio]