Lebih dari sekadar memproduksi barang _eco-stylish_, FASHTERS meletakkan fondasinya pada pemberdayaan pilar sosial. Seluruh proses pembuatan produk melibatkan tangan-tangan terampil para pengrajin lokal. Melalui wadah ini, para pengrajin tidak hanya mendapatkan lapangan pekerjaan, tetapi juga peningkatan taraf hidup dan apresiasi terhadap keahlian seni mereka.
General Manager PLN UID Banten, Muhammad Joharifin, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung penuh ekosistem industri kreatif yang ramah lingkungan (_green economy_) di wilayah Banten.
Baca Juga:
PLN ES Sulap Bank Sampah KATA Jadi Penggerak Ekonomi Warga Malang
“Langkah ini sejalan dengan komitmen PLN dalam menggalakkan _Green Lifestyle_ dan mendukung program transisi energi menuju masa depan yang lebih bersih. PLN tidak hanya berfokus pada penyediaan pasokan listrik yang andal, tetapi juga menaruh perhatian besar pada pemberdayaan sosial dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui pembinaan UMKM lokal. Kami percaya, melalui sinergi antara pelaku usaha _eco-stylish_ seperti FASHTERS dengan dukungan keandalan energi serta program TJSL PLN, kita dapat mendorong para pengrajin lokal untuk naik kelas sekaligus menciptakan dampak lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat luas," ujar Joharifin
Pasar produk kriya yang unik, _homemade_, dan bernuansa _eco-stylish_ memang sedang tumbuh subur di tanah air. Konsumen hari ini tidak lagi hanya membeli barang karena fungsinya, melainkan karena nilai (_value_) dan cerita di balik proses pembuatannya.
Melalui lembaran goni dan helaian benang tenun, FASHTERS sedang mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari apa yang kita kenakan, dan merawat tradisi bisa sejalan dengan menyelamatkan masa depan lingkungan kita.
Baca Juga:
Dari Sungai Kotor ke Ekonomi Tumbuh, Bank Sampah KATA Berkembang Bersama PLN ES
[Redaktur: Sutrisno Simorangkir]