“Wisata masa depan tidak cukup hanya menjual panorama, tetapi harus menghadirkan cerita, karakter, pengalaman, dan identitas yang membuat orang ingin datang kembali,” ucap Tohom.
Andrew James sebelumnya menyampaikan bahwa KEK Tanjung Lesung memiliki potensi besar karena masih alami, dekat dengan Jakarta, dan mampu menjadi gerbang menuju pengalaman alam serta hutan.
Baca Juga:
PBTI Tunjuk Ketua Kareteker TI Jambi, SK Resmi Diserahkan ke KONI Provinsi Jambi
Investor yang juga arsitek internasional itu bahkan menyebut adanya rencana kedatangan kru film dari Prancis pada Juli mendatang untuk melakukan produksi film dengan latar kawasan hutan di sekitar KEK Tanjung Lesung.
Tohom menilai ketertarikan industri kreatif internasional terhadap Tanjung Lesung harus ditangkap pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat sebagai peluang memperluas rantai ekonomi lokal.
Ia mengatakan produksi film, festival musik, acara komunitas, pertunjukan seni, hingga kegiatan perusahaan dapat menjadi motor baru yang menghidupkan kawasan wisata sepanjang tahun.
Baca Juga:
Transformasi Tanjung Lesung Menuju Destinasi Hijau, MARTABAT Prabowo-Gibran: Harus Dijaga Konsistensinya
“Kalau Tanjung Lesung hanya diposisikan sebagai tempat menginap, dampaknya terbatas, tetapi jika dibangun sebagai ekosistem aktivitas, maka hotel, UMKM, seniman, pekerja lokal, transportasi, dan kuliner akan ikut bergerak,” kata Tohom.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa pengembangan KEK Tanjung Lesung harus dikaitkan dengan agenda besar pembangunan kawasan penyangga Jakarta agar pertumbuhan ekonomi lebih merata dan tidak tersentralisasi.
Menurutnya, gagasan menjadikan Tanjung Lesung sebagai pusat gaya hidup, pendidikan, pengembangan diri, dan komunitas kreatif sejalan dengan kebutuhan generasi muda yang membutuhkan ruang hidup lebih sehat, produktif, dan inspiratif.