Menurut Abdul Aris, selama ini Provinsi Banten termasuk Kabupaten Lebak merupakan daerah lokus penanganan stunting.
Penyebab stunting itu disebabkan berbagai faktor, antara lain kemiskinan, pendidikan, pengangguran, namun yang jelas akibat kurang asupan gizi.
Baca Juga:
BPBD Lebak Petakan 23 Kecamatan Rawan Kekeringan Warga Dipastikan Kesulitan Air Bersih
Karena itu, program MSG diharapkan bisa mengatasi persoalan kasus gizi dan prevalensi stunting, juga daerah rawan pangan.
Selain itu program MSG juga mendorong pemanfaatan dan produksi pangan lokal dari hasil komoditas pertanian sehingga mampu menggerakan ekonomi perdesaan.
"Kami tidak bisa membayangkan jika program MSG itu digulirkan, selain mampu mengatasi prevalensi stunting dan gizi juga dapat meningkatkan perekonomian lokal," kata Anggota Komisi III itu.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Kunjungan Wisata ke Lebak Banten Berdampak Positif Terhadap Peningkatan Kawasan KEK Tanjung Lesung
Berdasarkan laporan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), target prevalensi stunting adalah 14 persen pada 2024.
Namun progres penurunan belakangan ini kurang signifikan, bahkan berjalan di tempat, sebab pada 2022, prevalensi stunting berkisar 21,5 persen.
Pemerintah menggelontorkan dana penanganan stunting Rp46 triliun, namun prevalensi stunting pada 2023 hanya menurun 0,1 persen menjadi 21,4 persen, masih sangat jauh dari target 14 persen.