“Yang menarik, mereka tidak hanya bersiap dari sisi kapasitas, tetapi juga kualitas. Ini penting agar lonjakan wisatawan tidak berujung pada degradasi lingkungan,” katanya.
Ia menambahkan, program konservasi yang dijalankan seperti pembersihan pantai, penanaman pohon, pelepasliaran penyu, hingga konservasi terumbu karang merupakan langkah strategis yang harus diperluas dan direplikasi di destinasi lain.
Baca Juga:
Kemlu Gencarkan Promosi BBTF 2026 ke 132 Negara, Bidik Puluhan Buyer Global
“Ke depan, pariwisata Indonesia harus berbasis konservasi. Ini bukan pilihan, tetapi keharusan jika kita ingin menjaga daya saing jangka panjang,” tegasnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch mengatakan bahwa pengembangan Tanjung Lesung mencerminkan pentingnya integrasi antara infrastruktur, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan.
Menurutnya, kawasan seperti ini berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata jika dikelola secara konsisten dan terukur.
Baca Juga:
Menpar Apresiasi ISI Bali, Perkuat Pariwisata Berbasis Budaya Lewat Kalangan Widya Mahardika V
Lebih jauh, ia menilai keberhasilan Tanjung Lesung dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata dan kelestarian alam harus menjadi benchmark nasional.
“Kalau model ini diperkuat, Indonesia tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga contoh global dalam pengelolaan destinasi berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan panjang pantai mencapai 14 kilometer yang dilengkapi fasilitas pengaman, jalur pedestrian, hingga jogging track, Tanjung Lesung dinilai telah menunjukkan kesiapan dalam memberikan kenyamanan sekaligus menjaga kualitas lingkungan.